Apa Itu Nasionalisme ?
Nasionalisme menurut Hans Kohn diartikan sebagai “keadaan pada
individu yang dalam pikirannya merasa bahwa pengabdian paling tinggi
adalah untuk bangsa dan tanah air”.
Ben Anderson dalam Imagined Communities juga menyebut bahwa
nasionalisme terbentuk dari adanya suatu ilusi akan suatu bangsa
mandiri dan bebas dari kekuasaan kolonial; suatu bangsa yang diikat oleh
suatu kesatuan media komunikasi, yakni bahasa. Faktor kesamaan bahasa
serta kesamaan pengalaman bersama yang ditimbulkan oleh karya-karya
sastra menghasilkan suatu imagined communities yang didasari oleh perasaan senasib dan sepenanggungan (Anderson, Benedict, Imagined Communities).
Sedangkan Ridwan Saidi menuliskan Cita-cita nasionalisme selalu
bertolak belakang dengan harapan. Paham ini bukannya membantu sebuah
negara menjadi lebih baik, tetapi justru menjadi penghancur. Itulah
mengapa seorang tokoh kemerdekaan, Soedewo, pernah mengatakan,
“Nasionalisme bersemboyan Right or Wrong my Country itulah yang
bertanggung jawab atas peperangan dan pemerkosaan hak secara kasar;
atas penjajahan dan exploitas bangsa lemah. Disebut terakhir ini
dipaksakan ke dalam perbudakan, diruntuhkan dan dipermalukan moralnya,
demoralisasi.” (Ridwan Saidi, Islam dan Nasionalisme Indonesia).
Kelemahan Nasionalisme
1. Kualitas ikatannya rendah. Sehingga tidak mampu mengikat manusia yang satu dengan manusia yang lainnya tatkala mewujudkan kesatuan ummat.
1. Kualitas ikatannya rendah. Sehingga tidak mampu mengikat manusia yang satu dengan manusia yang lainnya tatkala mewujudkan kesatuan ummat.
2. Nasionalisme lebih mengandalkan sentimen atau emosi yang
semu, yang dibangkitkan sewaktu-waktu sesuai dengan hawa nafsu dan
kepentingan sempit kelompok tertentu maupun penguasa.
Syeikh Taqiyyudin An Nabhani mengatakan “Nasionalisme tidak bertolak
dari ide yang lahir melalui proses berpikir yang benar dan sadar. Maka
dari itu, nasionalisme bukan ide yang layak untuk membangkitkan umat
manusia. Sebab dalam suatu kebangkitan, diperlukan suatu pemikiran yang
menyeluruh (fikrah kulliyah) tentang kehidupan, alam semesta, dan
manusia, serta pemikiran tertentu tentang kehidupan untuk memecahkan
problem kehidupan” (Taqiyuddin An Nabhani, 1953)
3. Ikatan ini bersifat temporal, akan meningkat ketika ada
ancaman dari luar, sebaliknya pada saat keadaan normal atau aman ikatan
ini tidak berarti sama sekali.
Fakta Sejarah Kelam dan Dampak Buruk faham Nasionalisme terhadap Umat Islam
Pertama: Memecah belah umat.
Barat menyadari betul, selama umat Islam bersatu dengan ikatan akidah
Islam dan tersemai dalam institusi pemersatu umat, yakni Khilafah
Islamiyah, maka kaum Muslim tetap kuat. Mereka tahu jika Islam bersatu
maka Islam tak bisa dikalahkan. Karena itu mereka begitu massif
menyebarkan pemikiran-pemikiran berbisa—salah satunya nasionalisme, red.—dalam rangka terus-menerus merongrong kekuatan umat Islam.
Di Jazirah Arab, menjelang akhir Abad 19 dibentuk
persekutuan-persekutuan rahasia untuk mendorong nasionalisme Arab.
Melalui propaganda sesat, persekutuan itu menyerukan kemerdekaan politik
orang Arab, seperti di Syria dan Libanon. Mereka menuding Turki merebut
Khilafah Islam dari orang Arab dan melanggar syariah Islam.
Meski sempat mendapat pertentangan keras dari kaum ideologis, gerakan
ini banyak mendapat respon positif dari bangsa Arab sendiri. Terbukti
dengan banyaknya gerakan ini di negara-negara Arab, di antaranya di
Syria muncul beberapa gerakan nasionalisme Arab seperti, al-Jam’iyyah
as-Suriyah dan al-Jam’iyah as-Sariyah (tahun 1912). Di Beirut, Damaskus,
Halb, Baghdad, Bashrah dan Mousil muncul al-Jamiyat al-Islahiyah, yang
beranggotakan campuran orang Muslim dan Nasrani, dan muncul
gerakan-gerakan nasionalisme di negara Eropa yang dipelopori oleh para
pemuda Arab.
Racun nasionalisme akhirnya benar-benar menjalar ke tengah kaum
Muslim ketika pada tahun 1916 Inggris melalui seorang agennya Sharif
Hussein dari Makkah melancarkan Pemberontakan Arab terhadap Khilafah
Usmani di Turki. Pemberontakan ini sukses memisahkan Tanah Arab dari
Khilafah dan kemudian menempatkan tanah itu di bawah mandat Inggris dan
Prancis.
Pada saat yang sama, di Turki (1889) para jurnalis, penulis, penerbit
dan agiator yang menimba ilmu di Paris di membentuk sebuah gerakan
bernama Turki Muda. Para tokoh dalam gerakan ini seperti Mustafa Kemal
Attaturk, Gokalp, maupun Ahmad Ridha, kemudian menyebarkan paham sesat
sekularisme dan nasionalisme. Akhirnya, Khilafah Islam (1924) sebagai
perisai kemuliaan umat Islam itu diruntuhkan. (Erik J. Zurcher,Sejarah Modern Turki).
Kedua: Menyuburkan berbagai konflik.
Akibat paham nasionalisme diemban oleh kaum Muslim, Negara Islam yang
sebelumnya bernaung di bawah panji tauhid Khilafah Islamiyah akhirnya
dipecah-pecah menjadi sekitar 70 negeri-negeri kecil yang satu sama lain
saling bersengketa. Negara serumpun Indonesia-Malaysia sejak 1961 tak
luput dari sengketa. Semua itu berakar dari perebutan wilayah teritorial
hingga tema kebudayaan. Berawal dari rebutan wilayah Serawak atau
Sabah, Kalimantan, pada masa kini terus merembet dengan saling klaim
kepemilikan tari pendet, angklung, keris, reog Ponorogo, kain batik,
lagu kebangsaan, hingga masalah kedaulatan Ambalat. Ajakan “ganyang
Malaysia” pun terus bergulir di Tanah Air.
Konflik Timur Tengah tak kalah dahsyat. Konfrontasi Irak-Iran meletus
bermula pada bulan September 1980 dan berakhir pada bulan Agustus 1988.
Perang saudara ini disulut ketika Irak pada tahun 1975 melanggar
perjanjian perbatasan dengan Iran terkait kedaulatan sungai Shatt
al-Arab yang mengalir di perbatasan kedua negara. Ribuan nyawa kaum
Muslim melayang. Kerugian materi tak terhitung lagi.
Mesir dan Sudan juga pecah. Mulanya Sudan adalah bagian dari Mesir
ketika dipimpin oleh M. Ali Pasha. Lalu terjadia Revolusi (1952) yang
dipimpin oleh kelompok Perwira Bebas di Mesir, yang sukses meruntuhkan
tahta Raja Mesir. Para penguasa baru Mesir lalu menyepakati Sudan untuk
membentuk pemerintahannya sendiri atas campur tangan Inggris. Tak sampai
di situ, Sudan robek kembali. Pada 9 Juli 2011, Sudan Selatan resmi
menyatakan menjadi satu negara independen pisah dari Republik Sudan.
Hingga sekarang, bentrokan perbatasan dan kepentingan ekonomi tetap
merupakan masalah-masalah yang sulit diatasi antara Republik Sudan dan
Sudan Selatan. Di kawasan ini sampai sekarang masih rentan terjadi
peperangan.
Begitu pula antara Pakistan-Bangladesh. Semula mereka adalah hidup
dalam satu negara. Namun Pada 1971 terjadi peningkatan ketidakpuasan
politik dan nasionalisme budaya di Pakistan Timur. Hal ini menyebabkan
adanya operasi penekanan oleh pasukan Pakistan Barat dengan brutal
(operasi searchlight). Pakistan Timur, dibantu India, pada akhirnya memisahkan diri dan terbentuklah negara Bangladesh.
Hingga detik ini negeri-negeri di Timur Tengah terus mengalami
sengketa. Air pun menjadi rebutan. Negara-negara Lembah Nil yang
mencakup Mesir, Sudan, Sudan Selatan, Ethiopia, Uganda, Tanzania,
Rwanda, Republik Demokratik Kongo, Kenya dan Burundi, terus bersengketa
terkait pemanfaatan sungai Nil.
Ketiga: Memunculkan disintegrasi.
Selain mengakibatkan pecahnya negara-negara di Timur tengah,
nasionalisme juga tidak mampu mencegah adanya ancaman disintegrasi,
seperti halnya di Indonesia. Ancaman terjadi sejak pasca Kemerdekaan
hingga sekarang. Pada tahun 1948, misalnya, sebuah konflik kekerasan
terjadi di Jawa Timur. Peristiwa ini diawali dengan adanya proklamasi
negara Soviet Republik Indonesia oleh PKI. Di Sumatra sekitar tahun
1950-an muncul pula gerakan separatis PRRI (Pemerintahan Revolusioner
Republik Indonesia) pimpinan Kolonel Ahmad Husen. Di Sulawesi ada
PERMESTA (Piagam Perjuangan Rakyat Semesta) pimpinan D.J Somba dan
Kolonel Samual.
Pada masa sekarang, beberapa daerah di Indonesia masih bergolak
akibat ketidakpuasan politik dan ekonomi. Hasilnya, Timor-Timur kini tak
lagi menjadi bagian dari NKRI. Daerah lain seperti Aceh, Maluku dan
Papua masih berpotensi memisahkan diri. Muncul gerakan-gerakan penyeru
kemerdekaan yang tetap eksis seperti GAM (Gerakan Aceh Merdeka), RMS
(Republik Maluku Selatan) dan OPM (Organisasi Papua Merdeka).
Keempat: Melemahkan umat.
Nasionalisme terbukti menghilangkan kepedulian umat sehingga kaum
Muslim menjadi lemah. Negeri-negeri Islam menjadi santapan empuk
bangsa-bangsa imperialis. Namun, mereka menghadapi persoalan itu hanya
dengan sendiri-sendiri. Kesadaran bahwa umat Islam itu ibarat satu tubuh
pun telah meluntur. Padahal persaudaraan mereka berjumlah lebih dari
satu miliar manusia.
Nasionalisme inilah yang menyebabkan Palestina terus dinistakan oleh bangsa zionis Israel. Kaum zionis tahu, sistem nation-state yang
terapkan di negeri-negeri Muslim adalah benteng penghalang umat Islam
untuk membantu saudaranya. Sebagai misal, baru-baru ini berita
menyedihkan datang dari Mesir. Pasukan Presiden Mursy membanjiri
terowongan akses Gaza ke Mesir. Akibatnya, warga kedua wilayah tersebut
tidak dapat lagi menyelundupkan makanan dan logistik ke Gaza melalui
terowongan yang penuh dengan air. (Hizbut-tahrir.or.id, 27/02).
Demikian pula terjadi dengan saudara-saudara di Irak, Afganistan,
Suriah hingga Rohingnya. Para penguasa di negeri Muslim paling banter
membela mereka hanya sebatas retorika belaka. Mereka enggan mengirimkan
tentaranya untuk mengusir penjajah dan penista. Di sisi lain, sebagian
besar umat Islam pun bahkan tidak peduli lagi karena menganggap urusan
dalam negeri lebih penting ketimbang mengurusi negara lain.
Pandangan Islam mengenai faham nasionalisme
Berdasarkan uraian fakta sejarah diatas, dapatlah disimpulkan bahwa
Faham Nasionalisme adalah Racun yang akan membawa Umat Islam pada jurang
perpecahan yang dalam. Islam telah menentang dan mengharamkan ide
nasionalisme tersebut bukan hanya karena fakta sejarah Nasionalisme itu
merusak. Lebih dari itu secara landasan dalil Nasionalisme haram karena
bertentangan dengan prinsip persatuan umat yang diwajibkan oleh Islam.
Persatuan umat adalah wajib, sementara perpecahan umat adalah haram.
Kaum muslimin adalah satu kesatuan, yang wajib diikat oleh kesamaan aqidah (iman), bukan oleh kesamaan bangsa.
Allah Shubhanahu waTaála berfirman :
Sesungguhnya orang-orang beriman adalah bersaudara.(Al Hujurat : 13)
Dalam Piagam Madinah (Watsiqoh Al Madinah) disebutkan kewajiban umat
untuk menjadi satu kesatuan : Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi
Maha Penyayang. Ini adalah kitab (perjanjian) dari Muhammad Nabi
Shallallahu Álaihi waSallam antara orang-orang mu`min dan muslim dari
golongan Quraisy dan Yatsrib. Sesungguhnya mereka adalah umat yang satu
(ummah wahidah), yang berbeda dengan orang-orang lain (Lihat Sirah Ibnu
Hisyam, juz 2 hal. 119).
Rasulullah Shallallahu Álaihi waSallam pun telah mengharamkan ikatan ashabiyah, termasuk nasionalisme :
“Bukan termasuk Ummatku orang yang mengajak pada Ashabiyah,dan bukan termasuk ummatku orang yang berperang atas dasar Ashabiyah,dan bukan termasuk ummatku orang yang mati atas dasar Ashabiyah.“(HR.Abu Dawud).
Islam tidak mengenal dengan namanya nasionalisme bahkan paham ini
jelas harus dijauhi, tidak boleh diperjuangkan. Paham seperti ini dalam
al-quran dikenal dengan ashabiyah. Rasulullah mempersatukan kaum
muhajirin dan anshor dengan satu landasan yaitu akidah Islamiyah. Bukan
karena landasan nasionalisme atau yg lainya. Rasulullah mengumpamakan
kita seperti satu tubuh yang saling melengkapi satu sama lain.
Ketika masyarakat dan negara Islam baru tumbuh di kota Madinah. Dan
kedudukan politik dan kekuatan ekonomi mereka menggeser kepentingan dan
posisi kaum Yahudi, maka Yahudi membuat makar. Salah seorang tokoh
Yahudi yang bernama Syas bin Qais yang sangat benci dengan bersatunya
dua suku besar penghuni kota Madinah Aus dan Khazraj dalam ikatan Islam,
membuat makar dengan mengirim seorang penyair agar membacakan
syair-syair Arab Jahiliyah yang biasa mereka pakai dalam perang Buats.
Perang Buats adalah perang yang terjadi selama 120 tahun (Ibnu Ishaq
dalam Tafsir Al Mawardi) antara kaum Aus dan Khazraj. Dan selama musim
perang tersebut, pihak Yahudilah yang mengambil keuntungan politik
maupun ekonominya.
Penyair suruhan Syas berhasil mempengaruhi jiwa sekumpulan kaum
Anshar dari kalangan Aus dan Khazraj di suatu tempat di kota Madinah.
Syair jahiliyah tersebut mengantarkan mereka kepada perasaan kebanggaan
dan kepahlawanan mereka di masa jahiliyah dalam medan perang Buats.
Perasaan kebangsaan dan kepahlawanan kaum Aus maupun Khazraj itu
memuncak hingga mereka lupa bahwa mereka sesama muslim. Yang Aus merasa
Aus dan yang Khazraj merasa Khazraj. Dalam puncak emosi perang itu
mereka akhirnya berteriak-teriak histeris ”Senjata-senjata!”.
Dalam situasi kritis itulah, Rasulullah datang bersama pasukan kaum
muslimin untuk melerai mereka. Rasulullah Shallallahu Álaihi waSallam
bersabda:“Wahai kaum muslimin, apakah karena seruan jahiliyah ini
(kalian hendak berperang) padahal aku ada di tengah-tengah kalian.
Setelah Allah memberikan hidayah Islam kepada kalian. Dan dengan Islam
itu Allah muliakan kalian dan dengan Islam Allah putuskan urusan kalian
pada masa jahiliyyah. Dan dengan Islam itu Allah selamatkan kalian dari
kekufuran. Dan dengan Islam itu Allah pertautkan hati-hati kalian. Maka
kaum Anshar itu segera menyadari bahwa perpecahan mereka itu adalah dari
syaithan dan tipuan kaum kafir sehingga mereka menangis dan berpelukan
satu sama lain. Lalu mereka berpaling kepada Rasulullah Shallallahu
Álaihi waSallam. dengan senantiasa siap mendengar dan taat…” (Sirah Ibnu
Hisyam Juz 1/555).
Dan marilah kita memperhatikan firman Allah Shubhanahu WaTa ála :
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah
kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika
kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan
hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang
ber-saudara dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah
menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan
ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS. Ali Imran
103).
Demikianlah, telah terungkap dengan jelas apa itu Ide Nasionalisme,
dan akibat buruk apa yang telah diderita kaum muslimin dengan faham
Nasionalisme tersebut. Kita bisa menyimpulkan bahwa Nasionalisme adalah
salah satu ide jahiliyyah yang kufur, kaum muslimin haram mengambil,
menerapkan maupun menyebarkan faham ini. Wallahuálam.
Pusataka :
1. Anderson, Benedict., Imagined Communities. Komunitas-komunitas Terbayang, Yogyakarta Insist Press, 2001.
2. Ridwan Saidi, Islam dan Nasionalisme Indonesia, LSIP, 1995.
3. Erik J. Zurcher, Sejarah Modern Turki, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003.
4. Wikipedia-Konfrontasi Indonesia-Malaysia.
5. Wikipedia-Perang Irak-Iran.
6. Wikipedia-first Sudanese Civil War.
7. M. Sukanta, Konflik Tak Berujung: Mengupas Konflik dan Interpedensi Mesir-Sudan dalam Perspektif Teori Hubungan Internasional, Jakarta: Teraju, 2007.
8. Wikipedia-Perang Kemerdekaan Bangladesh.
9. Penumpasan Pemberontakan Separatisme di Indonesia, Mabes TNI AD Press, 1985.
10. Sirah Ibnu Hisyam, Maktabah Syamilah.
11. Nizham al-Islam, Hizbut Tahrir Indonesia, Cet. 1, 2006.
12. Ali Mustofa Akbar, “Penghancur Khilafah”, Eramuslim.com, 2010

0 comments:
Post a Comment